Kamis, 10 Februari 2022

Keutamaan dan Amalan Bulan Rajab

Keutamaan bulan Rajab telah dijelaskan dalam Al Quran Surat At-Taubah ayat 36. Melalui ayat ini, Allah SWT berfirman mengenai bulan-bulan yang diagungkan. Berikut bunyi bacaannya,
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ - ٣٦
Artinya : Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram (untuk perang). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.

A. Keutamaan Bulan Rajab
 
• Dimuliakan oleh Allah dengan seribu
kemuliaan di hari kiamat.
 • Bulan Rajab adalah bulan yang disukai oleh Allah.
 • Kemuliaan bulan Rajab terdapat dalam malam Isra' Mi'rajnya.
 • Jika berpuasa sehari di bulan Rajab akan mendapatkan surga tertinggi (Firdaus) dan akan lipatgandakan pahalanya.
 • Puasa 3 hari di bulan Rajab akan dibuatkan parit yang panjang untuk menghalangi orang tersebut ke neraka (panjangnya setahun perjalanan).
 • Puasa 7 hari di bulan Rajab akan dilindungi dari 7 pintu neraka.
 • Puasa 16 hari di bulan Rajab akan dipertemukan dengan Allah di dalam surga dan menjadi orang pertama yang menziarahi Allah dalam surga.
 • Puasa satu hari di bulan Rajab seumpama puasa empat puluh tahun dan akan diberi air minum dari surga.
 • Bulan Rajab merupakan bulan diampunkan dosa-dosanya yang bertaubat kepada-Nya.
 • Bersedekah di bulan Rajab seperti bersedekah seribu dinar akan diangkat derajatnya.

B. 12 amalan Bulan Rajab yang dianjurkan untuk dikerjakan umat Islam :

1. Puasa Rajab
Puasa Rajab merupakan salah satu puasa sunnah yang dianjurkan. Rasulullah SAW dalam sebuah riwayat disebutkan selalu berpuasa di bulan rajab ini. Diriwayatkan dalam hadits sahih bahwa Rasulullah SAW berpuasa di Bulan Rajab. Kesunnahan puasa Rajab juga dapat diambil dari dalil-dalil umum mengenai dianjurkannya berpuasa pada empat bulan haram. Disebutkan dalam Shahih Muslim, (hadits no. 1960) :
عن عُثْمَانَ بْنِ حَكِيمٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ
Dari Utsman bin Hakim Al-Anshari bahwa ia berkata : "Saya bertanya kepada sahabat Sa’id bin Jubair mengenai puasa Rajab, dan saat itu kami berada di bulan Rajab".
Maka ia pun menjawab : "Saya telah mendengar Ibnu Abbas RA berkata, dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpuasa hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan puasa”.
Hadis ini secara eksplisit menjelaskan bahwa nabi Muhammad SAW sering puasa terus menerus di bulan rajab, hingga para sahabat mengira bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah berbuka, namun kadang Nabi Muhammad SAW tidak berpuasa hingga para sahabat mengira Nabi tidak berpuasa di Bulan Rajab.
- Puasa Sunnah di Bulan rajab ini bisa dilakukan khusus pada tanggal 1 Rajab.
- Puasa khusus hari Kamis minggu pertama bulan Rajab.
- Puasa khusus pada hari Nisfu Rajab.
- Puasa khusus pada tanggal 27 Rajab.
- Puasa pada awal, pertengahan dan akhir bulan Rajab.
- Berpuasa khusus sekurang-kurangnya sehari pada bulan Rajab.
Adanya beberapa riwayat yang dhoif dan maudhu’ tentang keutamaan puasa rajab bukan berarti puasa sunnah di bulan Rajab tidak ada. “Puasa Rajab sangat dianjurkan oleh Rasulallah SAW walau hanya beberapa hari saja.”

2. Perbanyak Baca Istighfar
Bulan rajab adalah bulan permohonan ampun kepada Allah Ta’ala. Bulan rajab disebut “syahr al-istigfar”, maka perbanyaklah istigfar di bulan ini. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Rajab artinya mencurahkan, karena pada bulan rajab, Allah Ta’ala mencurahkan rahmat-Nya kepada umat-Nya. Setiap manusia mempunyai salah dan khilaf, maka perbanyaklah memohon ampun di bulan ini. Berikut bacaan istighfar :
اَللَّهُمّ أَنْتَ رَبِّيْ لآ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْـتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّه لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنت
Latin : Allahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta khalaqtanii wa ana 'abduka wa ana 'alaa 'ahdika wawa'dika mastatho'tu a'uudzubika min syarri maa shona'tu abuu ulaka bini'matika 'alayya wa abuu u budzanbii fagjfirlii fainnahuu laa yaghfiru dzunuuba illaa anta.
Artinya : Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu, aku akan setia pada janjiku pada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang aku perbuat. Kuakui segala nikmat-Mu atasku dan aku akui segala dosaku (yang aku perbuat). Maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau.
اَسْـتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِي لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ، تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لاَ يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا وَلاَ مَوْتًا وَلاَ حَيَاةً وَلاَ نُشُوْرًا
سُـبْحَان الله الْحَيِّ الْقَيُّوْمِ
Latin : Astaghfirullahal 'adhiim alladziii laaa ilaaha illa huwal hayyul qayuyuumu wa atuubu ilaihi taubatan abdin dhoolimin laa yamliku linafsihi dharran wala naf'an walaa mauta walaa hayaatan walaa nusyuuran subhaanallahil hayyul qayyuum.

3. Bersedekah
Salah satu jalan yang ditempuh oleh para salik untuk mencapai kemuliaan adalah bersedekah. Namun yang paling utama adalah memilih waktu yang mulia untuk bersedekah. Dan salah satu bulan yang mulia untuk memperbanyak amal soleh termasuk bersedekah adalah Bulan Rajab.
قال النبي صلى الله عليه وسلم : من تصدق في رجب باعده الله من النار كمقدار غراب طار فرخا حتى مات هرما
“Nabi Muhammad SAW bersabda, siapa yang sedekah di bulan Rajab maka Allah Ta’ala menjauhkan dirinya dari neraka sejauh jarak terbang seekor burung elang yang terbang dari kecil hingga mati.”
قال النبي صلى الله عليه وسلم : من فرج عن مؤمن كربة في رجب أعطاه الله في الفردوس قصرا مد بصره
“Nabi Muhammad SAW bersabda, siapa yang melapangkan kesulitan seorang mukmin di bulan Rajab, maka Allah Ta’ala akan memberikan istana di surga Firdaus seluas pandangan matanya.”
Hadirnya bulan rajab yang menyapa hamba merupakan isyarat dan kesempatan agar setiap hamba meningkatkan seluruh amalnya termasuk di dalamnya bersedekah.
Bersedekah banyak keutamaannya. Pertama, bersedekah dapat memadamkan murka Allah Ta’ala. Kedua, bersedekah dapat menolak bala. Ketiga, bersedekah dapat memperlancar dan memperbanyak rizki. Keempat, bersedekah akan memperpanjang umur. Kelima, bersedekah akan memberikan keberkahan hidup di dunia dan akhirat.

4. Berdzikir
Dzikir adalah amalan yang mulia. Perbedaan orang yang mati dan yang hidup adalah terletak pada zikirnya. Bulan rajab yang penuh dengan kemuliaan hendaknya diisi dengan zikir dan berdoa. Berikut bacaan dzikir bulan rajab dikutip dari bincang syariah :
سُبْحَانَ اْلإِلَهِ اْلجَلِيْلِ ، سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنْبَغِي التَّسْبِيْحُ إِلَّا لَهُ ، سُبْحَانَ اْلأَعَزِّ اْلأَكْرَمِ ، سُبْحَانَ مَنْ لَبِسَ اْلعِزًّ وَهُوَ لَهُ أَهْلٌ
Latin : Subhaanal ilahil jaliil, subhaana man laa yanbaghii tasbiihu illaa lahu, subhaanal a'azzal akram, subhaana man labisal'izza wahuwa lahu ahlun
Artinya : Maha Suci Tuhan yang Agung, Maha Suci Zat yang tidak bertasbih kecuali kepadanya, Maha Suci Zat yang mulia dan pemurah, Maha Suci Zat yang memakai pakaian keagungan dan Dia pantas atasnya.
Disebutkan oleh Yahya bin al-Husain Al-Syajari dalam kitabnya Kitab Al-Amali bahwa zikir di atas dibaca sebanyak 100 kali setiap hari yang sedang tidak berpuasa di bulan Rajab.

5. Membaca Sholawat
Bulan rajab juga dianjurkan untuk banyak membaca sholawat atas Nabi. Adapun redaksi sholawatnya bebas.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.
Latin : Allahumma shalli wa sallim 'alaa sayyidinaa muhammadin wa 'alaa aali sayyidinaa muhammad.
Artinya : Wahai Allah, limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada penghulu kami, Nabi Muhammad dan keluarganya.
Sholawat Ummi :
اَللَّــهُمَّ صَلِّ عَـلـٰى سَـيِّـدِنَـا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَـبِـيِّكَ وَرَسُوْلِكَ نَبِى الْأُمِّـى وَعَــلـٰى أَلِـهِ وَصَحْبِهِ وَسِلِّـمْ.
Latin : Allahumma sholli’alaa sayyidinaa muhammadin abdika wanabiyyika wa Rosuulika Nabil Ummy wa a’laa alihi wa shohbihi wasillam.
Artinya : Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad saw, sebagai hamba, Nabi, dan utusan-Mu yang Ummy (tidak bisa membaca dan menulis) beserta keluarga dan sahabatnya dengan salam yang sesungguhnya.
Sholawat Jibril :
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد 
Latin : Shollallohu A’la Muhammad.
Artinya : Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada Nabi Muhammad SAW.

6. Membaca doa Bulan Rajab
Membaca doa seperti yang diriwayatkan oleh Sayyidina Anas RA, bahwa Rasulullah ketika memasuki bulan Rajab berdo'a :
أللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَان
Latin : Allahumma baarik lanaa fii rajaba wa sya'baana wa ballighnaa ramadhoon
Artinya : Ya Allah berilah kami keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan kami pada bulan Ramadhan.

7. Mengadakan shalat khusus pada malam pertama bulan Rajab.

8. Mengadakan shalat khusus pada malam Jum'at pekan pertama bulan Rajab.

9. Shalat khusus pada malam Nisfu Rajab (pertengahan atau tanggal 15 Rajab).

10. Shalat khusus pada malam 27 Rajab (malam Isra' dan Mi'raj).

11. Mengeluarkan zakat khusus pada bulan Rajab.

12. Umrah khusus di bulan Rajab.

Demikian amalan Bulan rajab yang bisa dilakukan umat Islam agar mendapat berkah dan cucuran rahmat dari Allah SWT.

5 Keutamaan Surat Al-Kahfi, Baca Surat Ini di Hari Jum'at

1. Diampuni dosa di antara dua Jum'at
Keutamaan surat Al-Kahfi yang pertama adalah Allah SWT akan mengampuni dosa atas segala perbuatan bagi seseorang jika membaca surat Al-Kahfi di hari Jum'at. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dari Abdullah bin Umar yang artinya, "Barang siapa yang membaca Surat Al-Kahfi pada hari Jum'at, akan dibentangkan baginya cahaya mulai dari bawah telapak kakinya sampai ke langit. Cahaya itu akan memancarkan sinar baginya pada hari kiamat. Dan ia akan mendapatkan ampunan dari Allah di antara dua Jum'at." 
(H.R. Abu Bakr bin Mardawaih)

2. Mendapatkan ridha Allah SWT
Keutamaan surat Al-Kahfi bagi umat muslim yang membacanya akan dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mendapatkan berkah bagi dirinya. Sebagaimana dalam hadist riwayat Ahmad, Rasulullah SAW bersabda : “Siapa yang membaca surat Al-Kahfi, maka jadilah baginya cahaya dari kepala hingga kakinya, dan siapa yang membaca keseluruhannya maka jadilah baginya cahaya antara langit dan bumi.” 
(H.R. Ahmad)

3. Terhindar dari fitnah Dajjal
Keutamaan membaca surat Al-Kahfi selanjutnya adalah dapat terhindar dari fitnah Dajjal. Dari Abu Darda, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa membaca sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari fitnah Dajjal." 
(H.R. Ibnu Hibban)

 4. Dijaga dari gangguan setan
Salah satu cara yang dapat dilakukan agar terhindar dari gangguan setan adalah membaca Surat Al-Kahfi di hari Jum'at. Sebagaimana telah disebutkan dalam hadist, dari Abdullah bin Mughaffal, Rasulullah SAW bersabda, "Sebuah rumah yang selalu dibacakan surat Al-Kahfi dan surat Al-Baqarah maka rumah itu tidak akan dimasuki setan sepanjang malam tersebut. Dengan demikian, bacalah surat Al-Kahfi agar terhindar dari gangguan setan yang terkutuk." 
(H.R. Ibnu Mardawaih)

5. Sebagai pengingat akan hari Kiamat
Setiap umat muslim wajib untuk senantiasa mengingat akan hari Kiamat untuk terus melakukan kebaikan kepada sesama dan menjauhkan diri dari larangan Allah SWT. Dalam Al Quran surat Al-Kahfi ayat 47 berbunyi, "Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka." 
(Q.S. Al-Kahfi:47)

Buka dengan Iqro dan Tutup dengan Bissmirobbika

   Empat belas abad yang lalu, seorang lelaki paruh baya sedang duduk merenung di dalam goa di salah satu gunung di kota Mekkah. Ia berpikir tentang kerusakan moral bangsanya. Siapa sangka, melalui malaikatnya, Jibril, Tuhan mengirim pesan kepadanya yang menjadi titik awal lahirnya agama baru di kota Mekkah. Lelaki ini bernama Muhammad ibn Abdullah. 

   Yang unik dari pesan pertama ini adalah pesan ini sama sekali tidak berbicara tentang ibadah, berbicara tentang keesaan pencipta, berbicara tentang kewajiban. Tetapi, ayat ini berbicara tentang kegiatan intelektual. Pesan pertama ini memerintahkan Muhammad untuk membaca. Iqra bissmirobbika ladzi kholaq, begitu pesan pertamanya. 

   Ya, ayat itu adalah surat ke 96 ayat 1-5, dibuka dengan kalimat perintah, Iqra' yang artinya Bacalah. 

   Kalimat Iqro, dilanjutkan dengan kalimat Biismirobbika. Artinya, segala kegiatan intelektual kita harus disenderkan kepada Tuhan. Setiap penelitian kita harus menambah keimanan dan ketakjuban kita terhadap Tuhan. 
Dalam suatu kesempatan, Rasulullah SAW pun bersabda “Carilah ilmu walau sampai ke negeri China", dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda “Mencari ilmu hukumnya wajib bagi umat Muslim" 

   Nabi Muhammad adalah pemimpin yang sangat mementingkan pendidikan dan ilmu. Setiap selesai berperang, beliau biasanya meminta supaya para tawanan yang bisa mengajari kaum Muslim membaca dan manulis untuk dibebaskan. Rasulullah mengingatkan bahwa pencarian ilmu adalah kegiatan yang paling mulia yang bisa dilakukan manusia. 

   Nabi Muhammad juga menyatakan bahwa “Tinta seorang sarjana lebih suci dari pada darah para syuhada". 

   Hadis-hadis diatas ditanggapi secara serius oleh pada sarjana muslim. Sehingga, Sejarah menyatakan betapa umat muslim terdahulu sangat berkontribusi besar pada kemajuan pengetahuan. Bahkan, sejarah mencatat ada banyak ilmuwan-ilmuwan kaliber yang lahir dari rahim Islam. 

   Dua belas abad silam, setelah jagad pengetahuan Islam berhasil mengintegrasikan antara Epistemologi Barat (Yunani, Romawi, Alexandria) dan Khazanah Timur (Persia, Babilonia, China dan India) dengan pendirian pelbagai lembaga kajian ilmiah, riset, observatorium, dan laboratorium yakni Khizanah Al Hikmah atas inisiasi Khalifah Harun Ar-Rasyid lalu dikembangkan oleh Al Makmun menjadi Bayt Al Hikmah. Tak disangka, pada zaman ini telah berdiri madzhab dan revolusi Maragha yakni sebuah gerakan revolusi saintifik jauh sebelum Renaissance bergemuruh di benua biru. 

   Sejumlah astronom muslim seperti Ibn Haitsam dan Ibn Syatir telah bergiat menekuni bahwa kemungkinan yang tepat adalah bumi berputar pada porosnya dan adanya sistem tata Surya yang mana matahari menjadi pusatnya. Teori ini disebut Heliosentris. Mereka membuat gambaran planet Non-Ptolemeus, bahkan Ibn Hawqal adalah orang pertama yang menggambar planet. Belum lagi nama besar Mu'ayaduddin Urdi yang menolak total pandangan Ptolemeus dengan bukti Empiris yang tak semata-mata Filosofis. Kelak, Nicolas Copernicus baru berani mengemukakan pandangan Ibn Haitsam dan Ibn Syatir setelah rentang waktu 500 tahun. Karangan Copernicus, De Revolusionibus dikatakan banyak mengadopsi pandangan-pandangan Ibn Syatir dan At Tusi, seorang Filosof dan Matematikawan dari Madzhab Maragha. Ditambah argumentasi Copernicus tentang rotasi bumi begitu pararel dengan pendapat Ali Al-Qusyji. 

   Ibn Nafis menjadi ilmuwan pertama yang menggambarkan sirkulasi darah, urat nadi, dan arteri secara rinci pada abad ke-13 di Andalusia, Spanyol. Orang Barat banyak mengagungkan Ilmuwan Inggris bernama William Harvey yang baru menggambarkan sistem peredaran darah pada abad ke-17, hingga akhirnya karya-karya Ibn Nafis ditemukan di Berlin pada tahun 1924.

   Selain mereka diatas, Islam masih punya sederet generasi dengan nama mentereng. Umar Khayyam misal, seorang sastrawan, matematikawan, mujtahid, penemu dalam berbagai disiplin ilmu, dan dekat dengan birokrasi. Berikutnya, ada Musa Al Khawarizmi, seorang ahli yurisprudensi, matematikawan, penemu angka nol, ilmuwan yang berhasil mengawinkan matematika Yunani, India dan Persia. Angka-angka modern, instrumen aljabar sampai geometri dan teknik pembagian waris yang efisien hingga bilangan binner, adalah buah dari prisma pemikiranya, yakni angka nol, semuanya termaktub dalam kitabnya Al Jabar Wal Muqobalah. Ada lagi nama Al Farabi, filsuf, musisi penemu alat musik Qonun (Cikal bakal piano modern), sufi dan negarawan. Karya monumentalnya adalah Musiq Al Kabir. 

   Selanjutnya, ada nama Ibn Rusyd, kebanggaan Andalusia, umur 19 tahun sudah menjadi menteri, hakim, ahli Fiqh, filsuf besar penerus Aristoteles, dokter dan sederet reputasi elegan lainya. Ada nama Ibn Sina, penemu 15.000 macam penyakit, diagnosis dan obatnya, semuanya terkumpul dalam Qonun Fii Thibb, umur 18 tahun telah diangkat menjadi fisikawan. Jangan lupakan Al Ghazali, seorang filsuf, teolog, ahli fiqh, sufi besar, rektor perguruan tinggi, dan penulis ensiklopedi Islam terlengkap, Ihya Ulumuddin, dan sederet nama ilmuwan lainya. 

   Mereka semua adalah contoh ilmuwan yang berhasil secara sempurna dalam Iqro lalu ditutup segala kegiatan ilmiahnya dengan Biismi Robbika Ladzi Kholaq. 

   Ada satu fenomena menarik, selain wawasan mereka yang lintas disiplin, ternyata di sebelah laboratorium mereka selalu terdapat masjid atau surau. Mereka semua selain filosof dan ilmuwan, juga memiliki kesalehan pribadi yang menawan, sebagian memang agamawan. Ajaran Rasulullah untuk mencari ilmu dijalankan dengan semangat ibadah kepada Allah sehingga keunggulan pengetahuannya tidak ada yang menandingi. Pengetahuan diimpor besar-besaran dari seluruh peradaban maju dunia, seperti Persia, Yunani, Romawi, India, juga China dengan kecepatan yang mengagumkan. 

   Ini harus menjadi semangat baru kita dalam belajar. Menjadi pintar dalam ilmu agama tak berarti tidak menguasai ilmu dunia. Begitu pun sebaliknya. Kita boleh menguasai Al Quran sekaligus Matematika. Menguasai Fiqh sekaligus Fisika. Menguasai Hadis sekaligus Kedokteran. Menguasai Tauhid sekaligus Astrofisika. Apapun itu, selama ujungnya adalah keridhoan Tuhan, maka wajib diperjuangkan. Ilmuwan Muslim terdahulu telah memberikan contoh terbaik dalam hal ini. Mereka membuka kegiatannya dengan Iqro' kemudian ditutup secara sempurna dengan Bissmirobbika. Kita pun harus seperti itu. Kegiatan pembelajaran kita adalah Iqro, kita belajar, membaca, membuka wawasan baru dan yang landasan kita juga penutup segala kegiatan intelektual kita adalah Bissmirobbika. 

   Ini sejarah kita. Sejarah agama kita. Kita mestinya bisa belajar dari fakta ini bahwa agama kita adalah agamanya orang berakal. Kita, sebagai muslim, tentu harus bisa melanjutkan perjuangan ini. Menjadi Muslim bukan berarti kita hanya harus belajar ilmu agama saja. Pelajari semua pengetahuan dari belahan bumi ini. Sebagaimana yang Nabi sabdakan bahwa hikmah itu berceceran dimana-mana dan kita dan harus memungutnya meskipun dari tempat terhina.

Senin, 24 Januari 2022

Memilah Agama dan Budaya "Merekonstruksi Cara Pandang Kita Terhadap Sunnah Nabi"

Dalam satu kesempatan, Rasulullah SAW bersabda 
من احبّ سنّتي، فقد أحبّني، ومن احبّني، كان معي في الجنّة 
“Siapapun yang mencintai sunnahku, maka ia mencintaiku. Dan siapapun yang mencintaiku, maka ia akan bersamaku di surga". 

   Umat Islam, dituntut oleh kitab suci untuk mencintai Tuhan dan salah satu cara untuk mencintai Tuhan adalah dengan mengikuti segala tindak tanduk yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. 

   Tak aneh rasanya, jika kita melihat ada orang sangat kuat dalam menjalankan sunnah Nabi SAW. Setiap hendak solat, mereka membawa kayu siwak di saku bajunya. Ada beberapa komunitas islami yang mengharuskan anggotanya untuk belajar memanah dan berkuda. Ada lagi yang mengharuskan memakai pakaian tertutup penuh dari wajah sampai kaki. Bahkan, ada yang mengajarkan teknik berdagang sesuai cara Nabi SAW. Semua ini adalah bentuk kecintaan umat pada nabinya. Semua ini diyakini sebagai sunnah Nabi SAW. 
Namun, benarkah demikian? 
Benarkah memakai siwak adalah sunnah Nabi? Benarkah belajar memanah dan berkuda adalah sunnah Nabi? Benarkah memakai pakaian khas Arab pada zaman dulu adalah sunnah Nabi? Benarkah berdagang adalah sunnah Nabi? Benarkah semua itu sunnah Nabi? 
Atau semua itu hanya budaya yang terikat zaman? 
Kita dalam beragama seringkali bergantung pada pada arti harfiah dan meninggalkan makna juga maksud teks keagamaan. Ini problem. Hal ini menjadikan umat Islam kurang kreatif, berpikiran tertutup, dan tidak aktif dalam perkembangan zaman. 

   Memaknai suatu teks keagamaan dengan arti harfiahnya tentu bukan hal yang keliru. Haidar Bagir dalam bukunya Islam Tuhan Islam Manusia menyatakan bahwa pintu pertama memahami teks keagamaan adalah mengerti arti harfiahnya. Namun, jika kita hanya berpegang pada arti harfiahnya saja, kita akan kehilangan semangat, etik-religio, dan maksud suatu teks. 

   Saat Nabi bersabda tentang siwak sebagai pembersih gigi lalu difahami bahwa menggunakan siwak sunnah hukumnya dan dinilai sebagai ajaran agama, saat Nabi bersabda tentang memanah lalu difahami bahwa memanah hukumnya sunnah dan dinilai sebagai ajaran agama, saat Nabi bersabda tentang jubah dan baju khas Arab lainya lalu difahami bahwa memakai pakaian Arab sunnah hukumnya dan dinilai sebagai ajaran agama, saat Nabi bersabda tentang berdagang lalu difahami bahwa profesi berdagang sunnah hukumnya dan dinilai sebagai ajaran agama. Ini semua salah. Salah kaprah lebih tepatnya. 

   Kita harus menangkap apa semangat yang ingin disalurkan oleh Nabi melalui hadis-hadis tersebut. Perintah Nabi adalah menjaga kebersihan mulut, bukan siwaknya. Siwaknya adalah budaya dan menjaga kebersihan mulut adalah ajaran agama. 

   Kita boleh menggunakan apapun yang berfungi sebagai alat kebersihan bagi mulut dan kita tetap dinilai menjalankan ajaran agama dan menjalankan kesunnahan.

   Perintah Nabi adalah menutup aurat, bukan jubahnya. Jubahnya adalah budaya dan menutup auratnya adalah ajaran agama. Kita boleh menutup aurat dengan baju batik, baju Uniqlo, baju H&M dan kita tetap dinilai menjalankan ajaran agama menjalankan kesunnahan. 

   Perintah Nabi adalah belajar beladiri, ilmu bertahan hidup, bukan memanahnya. Memanah adalah budaya dan belajar ilmu beladiri adalah ajaran agama. Kita belajar silat, senjata api, dan sebagainya tetap dinilai menjalankan ajaran agama dan menjalankan kesunnahan. 

   Perintah Nabi adalah carilah pekerjaan yang halal, bukan dagangnya. Dagang adalah budaya dan pekerjaan halal adalah ajaran agama. Kita berprofesi sebagai editor, programer, investor, atau apapun itu tetap dinilai menjalankan ajaran agama dan menjalankan kesunnahan asalkan halal. 

   Sunnah Nabi itu luas. Pemahaman yang sempit tentang Sunnah Nabi hanya akan menghasilkan ajaran agama yang sempit pula. Jika kita berpikiran luas dan terbuka, kita akan berani menyimpulkan bahwa bersikat gigi dengan pepsodent, berkumur dengan Listerine, solat memakai batik, menutup aurat dengan baju bermerk, pekerjaan sebagai editor, programer, polisi, atau pun pemilik toko adalah ajaran agama dan sunnah Nabi. 

   Semua itu bernilai halal dan menjalankan kehalalan adalah ajaran agama dan Sunnah Nabi. Allah memang memerintahkan Nabi SAW untuk mengajarkan akhlak yang mulia. Tetapi, Allah tidak “menitipkan pesan" kepada Nabi terkait teknologi, fashion, kesehatan, sains, dan lain-lain. Nabi hanya dititipi pesan terkait aturan dasarnya saja. 

   Menjalankan ajaran Islam tidak berarti menghidupkan kembali budaya di zaman Nabi SAW hidup. Akan tetapi, menjalankan ajaran Islam adalah bagaimana kita bisa menerapkanya di zaman kita hidup. 

   Agama dan budaya adalah hal berbeda, mari kita belajar memilahnya. 

Senin, 10 Januari 2022

Khutbah Jum'at Sebagai Media Kritik Sosial

 “Sesuap makanan yang masuk ke perut orang lapar itu lebih baik dari pada membina seribu masjid''.

“Memberi makan satu orang miskin itu lebih baik dari pada membangun seribu masjid. Lebih baik dari pada memberi kiswah pada kakbah dengan kain sutera. Lebih baik dari orang qiyamul lail dan ruku'. Lebih baik dari pada berjihad melawan kekafiran. Lebih baik dari pada puasa sepanjang tahun. Sungguh beruntung bagi mereka yang memberi makan pada orang lapar''.

   Dua kalimat bijak yang menggentarkan itu bukanlah kalimat yang terucap saat sedang pengajian, bukan kalimat yang terucap saat sedang madrasah, atau kalimat yang terucap saat sedang ceramah akbar. Tidak. Itu adalah kalimat yang terucap saat khutbah Jum'at. Ya, itu adalah isi khutbah Jum'at terpendek dalam sejarah Islam. Khutbah yang pertama diucapkan oleh Syekh Baqi Al-Muksyfi dan Khutbah yang kedua itu diucapkan oleh Syekh Abdul Qadir Jailani. 

   Bisa kita lihat, tak ada satupun kalimat yang mengajak kita untuk memperbanyak puasa, tak ada satupun kalimat yang meminta kita meningkatkan taqwa, untuk memburu surga dan menghindari neraka. Kita hanya menemukan kalimat “Beri makan orang miskin".

   Ini sangat kontras dengan kebiasaan khatib hari ini. Kita dijejali dengan berbagai ayat dan hadis tentang kebesaran Tuhan, kita dijejali nasihat-nasihat taqwa, dibuat takut dengan kalimat “Neraka Allah itu panas sekali", dibuat tergiur dengan kalimat “Dengan amal salih, kita bisa menikmati dada dan paha bidadari surga yang tak pernah rusak keperawananya"

   Disisi lain, kita tak pernah diingatkan bahwa diluar sana ada yang tak bisa hadir karena bajunya selalu kotor terkena air sampah yang najis kata para ustadz, diluar sana ada yang tak bisa hadir solat jum'at karena sibuk di lampu merah meminta-minta (dan tentunya solat jumat bukan kegiatan yang menguntungkan), atau mungkin kita tak pernah diingatkan bahwa disisi kanan kiri kita adalah orang yang bahkan sejak pagi belum makan sesuap nasi. 

   Singkatnya, khatib hari ini lebih banyak bicara aspek surga ketimbang aspek sosial yang lebih penting. 

   Ini harusnya jadi pembelajaran baru bagi setiap khatib agar isi khutbah mereka haruslah yang memiliki implikasi sosial, bukan vertikal saja. Umat, selain diingatkan untuk meningkatkan taqwa, ingatkan juga bahwa Allah meminta kita untuk peka sosial, ingatkan juga bahwa Nabi setiap kali selesai solat itu selalu bertanya kepada para sahabat tentang sahabat-sahabat yang lain yang kesusahan. Ingatkan juga bahwa para ulama dulu adalah orang-orang yang sangat peduli sosial.

   Diantara jamaah itu pasti ada yang kaya raya, ingatkan dia bahwa menumpuk kekayaan adalah tindakan tercela. Diantara jamaah pasti ada yang punya profesi tinggi di lingkungannya, ingatkan dia bahwa kelak pekerjaanya akan ditanya oleh Allah apa yang bisa ia berikan pada hamba-Nya yang lain melalui profesi itu. Diantara jamaah pasti ada yang bekerja sebagai guru, ingatkan dia bahwa dia punya tanggung jawab sosial untuk membimbing generasi. Ingatkan setiap kita bahwa kita punya tanggung jawab sosial bagi lingkungan kita. 

   Dengan ini, selain khatib membaca kitab suci untuk mencari ayat-ayat yang akan dibacakan saat khutbah, khatib juga akan keluar rumah untuk membaca realita sosial di sekelilingnya. 

Keutamaan dan Amalan Bulan Rajab

Keutamaan bulan Rajab telah dijelaskan dalam Al Quran Surat At-Taubah ayat 36. Melalui ayat ini, Allah SWT berfirman mengenai bulan-bulan ya...