Senin, 24 Januari 2022

Memilah Agama dan Budaya "Merekonstruksi Cara Pandang Kita Terhadap Sunnah Nabi"

Dalam satu kesempatan, Rasulullah SAW bersabda 
من احبّ سنّتي، فقد أحبّني، ومن احبّني، كان معي في الجنّة 
“Siapapun yang mencintai sunnahku, maka ia mencintaiku. Dan siapapun yang mencintaiku, maka ia akan bersamaku di surga". 

   Umat Islam, dituntut oleh kitab suci untuk mencintai Tuhan dan salah satu cara untuk mencintai Tuhan adalah dengan mengikuti segala tindak tanduk yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. 

   Tak aneh rasanya, jika kita melihat ada orang sangat kuat dalam menjalankan sunnah Nabi SAW. Setiap hendak solat, mereka membawa kayu siwak di saku bajunya. Ada beberapa komunitas islami yang mengharuskan anggotanya untuk belajar memanah dan berkuda. Ada lagi yang mengharuskan memakai pakaian tertutup penuh dari wajah sampai kaki. Bahkan, ada yang mengajarkan teknik berdagang sesuai cara Nabi SAW. Semua ini adalah bentuk kecintaan umat pada nabinya. Semua ini diyakini sebagai sunnah Nabi SAW. 
Namun, benarkah demikian? 
Benarkah memakai siwak adalah sunnah Nabi? Benarkah belajar memanah dan berkuda adalah sunnah Nabi? Benarkah memakai pakaian khas Arab pada zaman dulu adalah sunnah Nabi? Benarkah berdagang adalah sunnah Nabi? Benarkah semua itu sunnah Nabi? 
Atau semua itu hanya budaya yang terikat zaman? 
Kita dalam beragama seringkali bergantung pada pada arti harfiah dan meninggalkan makna juga maksud teks keagamaan. Ini problem. Hal ini menjadikan umat Islam kurang kreatif, berpikiran tertutup, dan tidak aktif dalam perkembangan zaman. 

   Memaknai suatu teks keagamaan dengan arti harfiahnya tentu bukan hal yang keliru. Haidar Bagir dalam bukunya Islam Tuhan Islam Manusia menyatakan bahwa pintu pertama memahami teks keagamaan adalah mengerti arti harfiahnya. Namun, jika kita hanya berpegang pada arti harfiahnya saja, kita akan kehilangan semangat, etik-religio, dan maksud suatu teks. 

   Saat Nabi bersabda tentang siwak sebagai pembersih gigi lalu difahami bahwa menggunakan siwak sunnah hukumnya dan dinilai sebagai ajaran agama, saat Nabi bersabda tentang memanah lalu difahami bahwa memanah hukumnya sunnah dan dinilai sebagai ajaran agama, saat Nabi bersabda tentang jubah dan baju khas Arab lainya lalu difahami bahwa memakai pakaian Arab sunnah hukumnya dan dinilai sebagai ajaran agama, saat Nabi bersabda tentang berdagang lalu difahami bahwa profesi berdagang sunnah hukumnya dan dinilai sebagai ajaran agama. Ini semua salah. Salah kaprah lebih tepatnya. 

   Kita harus menangkap apa semangat yang ingin disalurkan oleh Nabi melalui hadis-hadis tersebut. Perintah Nabi adalah menjaga kebersihan mulut, bukan siwaknya. Siwaknya adalah budaya dan menjaga kebersihan mulut adalah ajaran agama. 

   Kita boleh menggunakan apapun yang berfungi sebagai alat kebersihan bagi mulut dan kita tetap dinilai menjalankan ajaran agama dan menjalankan kesunnahan.

   Perintah Nabi adalah menutup aurat, bukan jubahnya. Jubahnya adalah budaya dan menutup auratnya adalah ajaran agama. Kita boleh menutup aurat dengan baju batik, baju Uniqlo, baju H&M dan kita tetap dinilai menjalankan ajaran agama menjalankan kesunnahan. 

   Perintah Nabi adalah belajar beladiri, ilmu bertahan hidup, bukan memanahnya. Memanah adalah budaya dan belajar ilmu beladiri adalah ajaran agama. Kita belajar silat, senjata api, dan sebagainya tetap dinilai menjalankan ajaran agama dan menjalankan kesunnahan. 

   Perintah Nabi adalah carilah pekerjaan yang halal, bukan dagangnya. Dagang adalah budaya dan pekerjaan halal adalah ajaran agama. Kita berprofesi sebagai editor, programer, investor, atau apapun itu tetap dinilai menjalankan ajaran agama dan menjalankan kesunnahan asalkan halal. 

   Sunnah Nabi itu luas. Pemahaman yang sempit tentang Sunnah Nabi hanya akan menghasilkan ajaran agama yang sempit pula. Jika kita berpikiran luas dan terbuka, kita akan berani menyimpulkan bahwa bersikat gigi dengan pepsodent, berkumur dengan Listerine, solat memakai batik, menutup aurat dengan baju bermerk, pekerjaan sebagai editor, programer, polisi, atau pun pemilik toko adalah ajaran agama dan sunnah Nabi. 

   Semua itu bernilai halal dan menjalankan kehalalan adalah ajaran agama dan Sunnah Nabi. Allah memang memerintahkan Nabi SAW untuk mengajarkan akhlak yang mulia. Tetapi, Allah tidak “menitipkan pesan" kepada Nabi terkait teknologi, fashion, kesehatan, sains, dan lain-lain. Nabi hanya dititipi pesan terkait aturan dasarnya saja. 

   Menjalankan ajaran Islam tidak berarti menghidupkan kembali budaya di zaman Nabi SAW hidup. Akan tetapi, menjalankan ajaran Islam adalah bagaimana kita bisa menerapkanya di zaman kita hidup. 

   Agama dan budaya adalah hal berbeda, mari kita belajar memilahnya. 

Senin, 10 Januari 2022

Khutbah Jum'at Sebagai Media Kritik Sosial

 “Sesuap makanan yang masuk ke perut orang lapar itu lebih baik dari pada membina seribu masjid''.

“Memberi makan satu orang miskin itu lebih baik dari pada membangun seribu masjid. Lebih baik dari pada memberi kiswah pada kakbah dengan kain sutera. Lebih baik dari orang qiyamul lail dan ruku'. Lebih baik dari pada berjihad melawan kekafiran. Lebih baik dari pada puasa sepanjang tahun. Sungguh beruntung bagi mereka yang memberi makan pada orang lapar''.

   Dua kalimat bijak yang menggentarkan itu bukanlah kalimat yang terucap saat sedang pengajian, bukan kalimat yang terucap saat sedang madrasah, atau kalimat yang terucap saat sedang ceramah akbar. Tidak. Itu adalah kalimat yang terucap saat khutbah Jum'at. Ya, itu adalah isi khutbah Jum'at terpendek dalam sejarah Islam. Khutbah yang pertama diucapkan oleh Syekh Baqi Al-Muksyfi dan Khutbah yang kedua itu diucapkan oleh Syekh Abdul Qadir Jailani. 

   Bisa kita lihat, tak ada satupun kalimat yang mengajak kita untuk memperbanyak puasa, tak ada satupun kalimat yang meminta kita meningkatkan taqwa, untuk memburu surga dan menghindari neraka. Kita hanya menemukan kalimat “Beri makan orang miskin".

   Ini sangat kontras dengan kebiasaan khatib hari ini. Kita dijejali dengan berbagai ayat dan hadis tentang kebesaran Tuhan, kita dijejali nasihat-nasihat taqwa, dibuat takut dengan kalimat “Neraka Allah itu panas sekali", dibuat tergiur dengan kalimat “Dengan amal salih, kita bisa menikmati dada dan paha bidadari surga yang tak pernah rusak keperawananya"

   Disisi lain, kita tak pernah diingatkan bahwa diluar sana ada yang tak bisa hadir karena bajunya selalu kotor terkena air sampah yang najis kata para ustadz, diluar sana ada yang tak bisa hadir solat jum'at karena sibuk di lampu merah meminta-minta (dan tentunya solat jumat bukan kegiatan yang menguntungkan), atau mungkin kita tak pernah diingatkan bahwa disisi kanan kiri kita adalah orang yang bahkan sejak pagi belum makan sesuap nasi. 

   Singkatnya, khatib hari ini lebih banyak bicara aspek surga ketimbang aspek sosial yang lebih penting. 

   Ini harusnya jadi pembelajaran baru bagi setiap khatib agar isi khutbah mereka haruslah yang memiliki implikasi sosial, bukan vertikal saja. Umat, selain diingatkan untuk meningkatkan taqwa, ingatkan juga bahwa Allah meminta kita untuk peka sosial, ingatkan juga bahwa Nabi setiap kali selesai solat itu selalu bertanya kepada para sahabat tentang sahabat-sahabat yang lain yang kesusahan. Ingatkan juga bahwa para ulama dulu adalah orang-orang yang sangat peduli sosial.

   Diantara jamaah itu pasti ada yang kaya raya, ingatkan dia bahwa menumpuk kekayaan adalah tindakan tercela. Diantara jamaah pasti ada yang punya profesi tinggi di lingkungannya, ingatkan dia bahwa kelak pekerjaanya akan ditanya oleh Allah apa yang bisa ia berikan pada hamba-Nya yang lain melalui profesi itu. Diantara jamaah pasti ada yang bekerja sebagai guru, ingatkan dia bahwa dia punya tanggung jawab sosial untuk membimbing generasi. Ingatkan setiap kita bahwa kita punya tanggung jawab sosial bagi lingkungan kita. 

   Dengan ini, selain khatib membaca kitab suci untuk mencari ayat-ayat yang akan dibacakan saat khutbah, khatib juga akan keluar rumah untuk membaca realita sosial di sekelilingnya. 

Keutamaan dan Amalan Bulan Rajab

Keutamaan bulan Rajab telah dijelaskan dalam Al Quran Surat At-Taubah ayat 36. Melalui ayat ini, Allah SWT berfirman mengenai bulan-bulan ya...