Senin, 10 Januari 2022

Khutbah Jum'at Sebagai Media Kritik Sosial

 “Sesuap makanan yang masuk ke perut orang lapar itu lebih baik dari pada membina seribu masjid''.

“Memberi makan satu orang miskin itu lebih baik dari pada membangun seribu masjid. Lebih baik dari pada memberi kiswah pada kakbah dengan kain sutera. Lebih baik dari orang qiyamul lail dan ruku'. Lebih baik dari pada berjihad melawan kekafiran. Lebih baik dari pada puasa sepanjang tahun. Sungguh beruntung bagi mereka yang memberi makan pada orang lapar''.

   Dua kalimat bijak yang menggentarkan itu bukanlah kalimat yang terucap saat sedang pengajian, bukan kalimat yang terucap saat sedang madrasah, atau kalimat yang terucap saat sedang ceramah akbar. Tidak. Itu adalah kalimat yang terucap saat khutbah Jum'at. Ya, itu adalah isi khutbah Jum'at terpendek dalam sejarah Islam. Khutbah yang pertama diucapkan oleh Syekh Baqi Al-Muksyfi dan Khutbah yang kedua itu diucapkan oleh Syekh Abdul Qadir Jailani. 

   Bisa kita lihat, tak ada satupun kalimat yang mengajak kita untuk memperbanyak puasa, tak ada satupun kalimat yang meminta kita meningkatkan taqwa, untuk memburu surga dan menghindari neraka. Kita hanya menemukan kalimat “Beri makan orang miskin".

   Ini sangat kontras dengan kebiasaan khatib hari ini. Kita dijejali dengan berbagai ayat dan hadis tentang kebesaran Tuhan, kita dijejali nasihat-nasihat taqwa, dibuat takut dengan kalimat “Neraka Allah itu panas sekali", dibuat tergiur dengan kalimat “Dengan amal salih, kita bisa menikmati dada dan paha bidadari surga yang tak pernah rusak keperawananya"

   Disisi lain, kita tak pernah diingatkan bahwa diluar sana ada yang tak bisa hadir karena bajunya selalu kotor terkena air sampah yang najis kata para ustadz, diluar sana ada yang tak bisa hadir solat jum'at karena sibuk di lampu merah meminta-minta (dan tentunya solat jumat bukan kegiatan yang menguntungkan), atau mungkin kita tak pernah diingatkan bahwa disisi kanan kiri kita adalah orang yang bahkan sejak pagi belum makan sesuap nasi. 

   Singkatnya, khatib hari ini lebih banyak bicara aspek surga ketimbang aspek sosial yang lebih penting. 

   Ini harusnya jadi pembelajaran baru bagi setiap khatib agar isi khutbah mereka haruslah yang memiliki implikasi sosial, bukan vertikal saja. Umat, selain diingatkan untuk meningkatkan taqwa, ingatkan juga bahwa Allah meminta kita untuk peka sosial, ingatkan juga bahwa Nabi setiap kali selesai solat itu selalu bertanya kepada para sahabat tentang sahabat-sahabat yang lain yang kesusahan. Ingatkan juga bahwa para ulama dulu adalah orang-orang yang sangat peduli sosial.

   Diantara jamaah itu pasti ada yang kaya raya, ingatkan dia bahwa menumpuk kekayaan adalah tindakan tercela. Diantara jamaah pasti ada yang punya profesi tinggi di lingkungannya, ingatkan dia bahwa kelak pekerjaanya akan ditanya oleh Allah apa yang bisa ia berikan pada hamba-Nya yang lain melalui profesi itu. Diantara jamaah pasti ada yang bekerja sebagai guru, ingatkan dia bahwa dia punya tanggung jawab sosial untuk membimbing generasi. Ingatkan setiap kita bahwa kita punya tanggung jawab sosial bagi lingkungan kita. 

   Dengan ini, selain khatib membaca kitab suci untuk mencari ayat-ayat yang akan dibacakan saat khutbah, khatib juga akan keluar rumah untuk membaca realita sosial di sekelilingnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Keutamaan dan Amalan Bulan Rajab

Keutamaan bulan Rajab telah dijelaskan dalam Al Quran Surat At-Taubah ayat 36. Melalui ayat ini, Allah SWT berfirman mengenai bulan-bulan ya...