Yang unik dari pesan pertama ini adalah pesan ini sama sekali tidak berbicara tentang ibadah, berbicara tentang keesaan pencipta, berbicara tentang kewajiban. Tetapi, ayat ini berbicara tentang kegiatan intelektual. Pesan pertama ini memerintahkan Muhammad untuk membaca. Iqra bissmirobbika ladzi kholaq, begitu pesan pertamanya.
Ya, ayat itu adalah surat ke 96 ayat 1-5, dibuka dengan kalimat perintah, Iqra' yang artinya Bacalah.
Kalimat Iqro, dilanjutkan dengan kalimat Biismirobbika. Artinya, segala kegiatan intelektual kita harus disenderkan kepada Tuhan. Setiap penelitian kita harus menambah keimanan dan ketakjuban kita terhadap Tuhan.
Dalam suatu kesempatan, Rasulullah SAW pun bersabda “Carilah ilmu walau sampai ke negeri China", dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda “Mencari ilmu hukumnya wajib bagi umat Muslim"
Nabi Muhammad adalah pemimpin yang sangat mementingkan pendidikan dan ilmu. Setiap selesai berperang, beliau biasanya meminta supaya para tawanan yang bisa mengajari kaum Muslim membaca dan manulis untuk dibebaskan. Rasulullah mengingatkan bahwa pencarian ilmu adalah kegiatan yang paling mulia yang bisa dilakukan manusia.
Nabi Muhammad juga menyatakan bahwa “Tinta seorang sarjana lebih suci dari pada darah para syuhada".
Hadis-hadis diatas ditanggapi secara serius oleh pada sarjana muslim. Sehingga, Sejarah menyatakan betapa umat muslim terdahulu sangat berkontribusi besar pada kemajuan pengetahuan. Bahkan, sejarah mencatat ada banyak ilmuwan-ilmuwan kaliber yang lahir dari rahim Islam.
Dua belas abad silam, setelah jagad pengetahuan Islam berhasil mengintegrasikan antara Epistemologi Barat (Yunani, Romawi, Alexandria) dan Khazanah Timur (Persia, Babilonia, China dan India) dengan pendirian pelbagai lembaga kajian ilmiah, riset, observatorium, dan laboratorium yakni Khizanah Al Hikmah atas inisiasi Khalifah Harun Ar-Rasyid lalu dikembangkan oleh Al Makmun menjadi Bayt Al Hikmah. Tak disangka, pada zaman ini telah berdiri madzhab dan revolusi Maragha yakni sebuah gerakan revolusi saintifik jauh sebelum Renaissance bergemuruh di benua biru.
Sejumlah astronom muslim seperti Ibn Haitsam dan Ibn Syatir telah bergiat menekuni bahwa kemungkinan yang tepat adalah bumi berputar pada porosnya dan adanya sistem tata Surya yang mana matahari menjadi pusatnya. Teori ini disebut Heliosentris. Mereka membuat gambaran planet Non-Ptolemeus, bahkan Ibn Hawqal adalah orang pertama yang menggambar planet. Belum lagi nama besar Mu'ayaduddin Urdi yang menolak total pandangan Ptolemeus dengan bukti Empiris yang tak semata-mata Filosofis. Kelak, Nicolas Copernicus baru berani mengemukakan pandangan Ibn Haitsam dan Ibn Syatir setelah rentang waktu 500 tahun. Karangan Copernicus, De Revolusionibus dikatakan banyak mengadopsi pandangan-pandangan Ibn Syatir dan At Tusi, seorang Filosof dan Matematikawan dari Madzhab Maragha. Ditambah argumentasi Copernicus tentang rotasi bumi begitu pararel dengan pendapat Ali Al-Qusyji.
Ibn Nafis menjadi ilmuwan pertama yang menggambarkan sirkulasi darah, urat nadi, dan arteri secara rinci pada abad ke-13 di Andalusia, Spanyol. Orang Barat banyak mengagungkan Ilmuwan Inggris bernama William Harvey yang baru menggambarkan sistem peredaran darah pada abad ke-17, hingga akhirnya karya-karya Ibn Nafis ditemukan di Berlin pada tahun 1924.
Selain mereka diatas, Islam masih punya sederet generasi dengan nama mentereng. Umar Khayyam misal, seorang sastrawan, matematikawan, mujtahid, penemu dalam berbagai disiplin ilmu, dan dekat dengan birokrasi. Berikutnya, ada Musa Al Khawarizmi, seorang ahli yurisprudensi, matematikawan, penemu angka nol, ilmuwan yang berhasil mengawinkan matematika Yunani, India dan Persia. Angka-angka modern, instrumen aljabar sampai geometri dan teknik pembagian waris yang efisien hingga bilangan binner, adalah buah dari prisma pemikiranya, yakni angka nol, semuanya termaktub dalam kitabnya Al Jabar Wal Muqobalah. Ada lagi nama Al Farabi, filsuf, musisi penemu alat musik Qonun (Cikal bakal piano modern), sufi dan negarawan. Karya monumentalnya adalah Musiq Al Kabir.
Selanjutnya, ada nama Ibn Rusyd, kebanggaan Andalusia, umur 19 tahun sudah menjadi menteri, hakim, ahli Fiqh, filsuf besar penerus Aristoteles, dokter dan sederet reputasi elegan lainya. Ada nama Ibn Sina, penemu 15.000 macam penyakit, diagnosis dan obatnya, semuanya terkumpul dalam Qonun Fii Thibb, umur 18 tahun telah diangkat menjadi fisikawan. Jangan lupakan Al Ghazali, seorang filsuf, teolog, ahli fiqh, sufi besar, rektor perguruan tinggi, dan penulis ensiklopedi Islam terlengkap, Ihya Ulumuddin, dan sederet nama ilmuwan lainya.
Mereka semua adalah contoh ilmuwan yang berhasil secara sempurna dalam Iqro lalu ditutup segala kegiatan ilmiahnya dengan Biismi Robbika Ladzi Kholaq.
Ada satu fenomena menarik, selain wawasan mereka yang lintas disiplin, ternyata di sebelah laboratorium mereka selalu terdapat masjid atau surau. Mereka semua selain filosof dan ilmuwan, juga memiliki kesalehan pribadi yang menawan, sebagian memang agamawan. Ajaran Rasulullah untuk mencari ilmu dijalankan dengan semangat ibadah kepada Allah sehingga keunggulan pengetahuannya tidak ada yang menandingi. Pengetahuan diimpor besar-besaran dari seluruh peradaban maju dunia, seperti Persia, Yunani, Romawi, India, juga China dengan kecepatan yang mengagumkan.
Ini harus menjadi semangat baru kita dalam belajar. Menjadi pintar dalam ilmu agama tak berarti tidak menguasai ilmu dunia. Begitu pun sebaliknya. Kita boleh menguasai Al Quran sekaligus Matematika. Menguasai Fiqh sekaligus Fisika. Menguasai Hadis sekaligus Kedokteran. Menguasai Tauhid sekaligus Astrofisika. Apapun itu, selama ujungnya adalah keridhoan Tuhan, maka wajib diperjuangkan. Ilmuwan Muslim terdahulu telah memberikan contoh terbaik dalam hal ini. Mereka membuka kegiatannya dengan Iqro' kemudian ditutup secara sempurna dengan Bissmirobbika. Kita pun harus seperti itu. Kegiatan pembelajaran kita adalah Iqro, kita belajar, membaca, membuka wawasan baru dan yang landasan kita juga penutup segala kegiatan intelektual kita adalah Bissmirobbika.
Ini sejarah kita. Sejarah agama kita. Kita mestinya bisa belajar dari fakta ini bahwa agama kita adalah agamanya orang berakal. Kita, sebagai muslim, tentu harus bisa melanjutkan perjuangan ini. Menjadi Muslim bukan berarti kita hanya harus belajar ilmu agama saja. Pelajari semua pengetahuan dari belahan bumi ini. Sebagaimana yang Nabi sabdakan bahwa hikmah itu berceceran dimana-mana dan kita dan harus memungutnya meskipun dari tempat terhina.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar